Jumat, 29 Juli 2016

Ngetrip Seru ke Suku Baduy Dalam

Hallo guys, lama nih gak update-update.. jadi sekarang kebetulan saya sudah pindah kerja ke Jakarta dan tidak bekerja lagi di travel agent, so... update jalan jalannya jarang... hahaha

Perjalanan kali ini saya tidak sendiri, bareng-bareng dengan kawan kawan baru di Jakarta. Diawali dengan kebosanan yang tiap week end di kosan terus terusan, tercetuslah ide saya dan teman teman buat lari dari kenyataan sebentar, nyari udara yang agak segeran dikit.

Setelah browsing kesana kemari, finally ditentukanlah suku baduy sebagai objeknya. Why suku baduy? Yap, kita pengen sedikit trracking melihat sisi lain dari kebudayaan Indonesia yang masih original, lagipula Baduy cukup dekat dengan Jakarta.

Untuk menuju kesana, ada aturan tertentu loh ya, terutama untuk perkampungan suku baduy dalam, harus didampingi oleh penduduk lokal baduy dalam. Perkampungan baduy dalam hanya diperuntukkan bagi warga negara Indonesia. Untuk turis mancanegara hanya diperbolehkan sampai perkampungan baduy luar.

Tentu saja guysss, persyaratan diatas tidak memungkinkan kami untuk backpakeran. Kami coba browsing kesana kemari, dan nemulah salah satu travel agent yang menyediakan open trip ke suku baduy. Nemulah kami salah satu travel agent yang menyediakan keberangkatan week end dengan harga 185ribu (exclude meals).

Perjalanan ke Baduy di mulai sabtu pagi. Jam 6 pagi saya dan teman teman berangkat menuju ke meeting point di Stasiun Tanah Abang. Disana kami bertemu dengan teman-teman lain dan representative travel agent. Jam 8 pas kereta berangkat menuju ke Rangkas Bitung. Perjalanan kurang lebih 1,5 jam. Sampai Stasiun Rangkasbitung, dilanjutkan perjalanan menggunakan elf ke terminal terkahir untuk ke Suku baduy, yaitu Ciboleger. Kurang lebih Jam 12 siang sampai di Ciboleger.

Dan ternyata, di Ciboleger sudah banyak masyarakat baduy yang siap menyambut pengunjung. Mostly, berdasarkan informasi yang saya dapat, rata-rata mereka sudah ada janji dengan travel agent untuk mendampingi tamu ke perkampungan mereka (baduy dalam). Setelah puas istirahat dan makan siang, saya dan teman teman membagi barang bawaan. Sesuai kesepakatan,. logistik akan dibawakan oleh porter. Semua logistik dari 6 orang sudah disatukan dan dimasukkan ke carrier (logistik berisi : beras, sarden, buah, abon, lainny lupa). Pas ketemu porternya, ternyata masih bocah (tebakanku usianya belom ada 15 taun), karna gak tega, yah logistik tersebut akhirnya saya bawa sendiri.

Perjalanan tracking dimulai jam 1 siang. Pas mulai jalan cuaca juga sudah mulai hujan, untungnya mantel ada dalam list item kami. Perjalanan melewati perkampungan satu ke perkampungan yang lain, makin ke dalem, perkampungannya makin tradisional, makin khas, makin orisinil. Setelah 4 jam perjalan diguyur hujan, Jam 6 sore kami pun resmi menginjakkan kaki di perkampungan baduy dalam... Welcomeee Baduy Dalam...

Begitu sampai, kami langsung diarahkan ke salah satu rumah penduduk untuk istirahat. Cewek dan cowok di pisah loh ya. Sayangnya waktu itu suasana cukup ramai, karena bertepatan dengan long week end. Hampir semua rumah penduduk terisi oleh pengunjung. Meskipun begitu, suasana sakralnya masih dapet banget. Karena memang aturan adat masih sangat ketat. Handphone, alat elektronik, shampo, sabun, pasta gigi dilarang digunakan. Disana tidak ada listrik, dan penduduk asli baduy dilarang menggunakan alas kaki.  Untuk kebutuhan MCK, semua disatu tempat, di sungai, letaknya persisi di samping kampung. Airnya masih jernih, masih bersih.

Malam mulai larut, kami makan malam dari logistik yang kami bawa, tuan rumah lah yang akan memasaknya. Entah alasan apa, pengunjung tidak boleh melihat bagian dapur. Kami diperbolehkan hanya di ruang tamu. Setelah makan malam, kami asik bercengkrama dengan penduduk asli yang ramah. Bertanya banyak hal tentang adat sitiadat mereka.

Mereka tidak ada yang sekolah secara formal, mata pencaharian utama mereka bertani. Sejak kecil, anak-anak sudah diajarkan berkebun. Banyak dari mereka yang menginap di kebun sampai beberapa hari. Jadi di kebun sudah ada gubuk dan peralatan memasaknya juga. Peralatan makannya masih otentik ala kerajaan, Gelasnya dari batang bambu, piringnya khusus yang terbuat dari keramik, Baju yang dikenakan ada dua warna, hitam dan putih, hasil tenunan sendiri. Secara fisik, mereka berkulit putih dan bersih, terutama cewek-ceweknya. Asli, cakep-cakep, sekilas mirip cewek jepang.

Pagi hari, setelah bersh bersih dan sarapan, kami pun turun gunung, kembali ke Jakarta. Kami melewati rute yang berbeda. Kurang lebih 5 jam, sampai lah di Ciboleger. Dari situ, dilanjutkan ke Stasiun Rangkasbitung menggunakan elf yang sama, dan kembali ke Jakarta dengan kereta yang sama. See you on next trip...

Di perjalanan dengan penduduk lokal baduy 

Saat melewati perkampungan baduy luar

Masih baduy luar

Istirahat dulu bentar, capek

The atapers, lebih adem, lebih greget